Pasang Tarub yaiku: Berbagai Simbol Alam Dengan Makna Mendalam

Pernikahan di berbagai daerah di Indonesia, memiliki berbagai keunikan dan tata caranya masing-masing. Salah satunya dengan adat Jawa yang punya tradisi pasang tarub yaiku penataan lokasi pernikahan sehingga layak untuk dijadikan tempat pernikahan dan mengundang tamu.

Tapi tidak bisa sembarang memasang saja, perlu dilakukan upacara khusus sebagai bagian dari tradisi. Upacara akan dilakukan sebelum siraman atau midodareni digelar.

Pasang Tarub yaiku

Buat kamu yang pernah melihat pernikahan adat Jawa, mungkin sudah tahu tentang tarub yang asal katanya adalah “diaa karep ben murup” sebagai salah satu filosofi berarti “ditata agar lebih hidup”.

tarub berupa pemasangan tenda yang dilakukan antara empat hingga tujuh hari sebelum acara pernikahan digelar. Lengkap dengan tambahan hiasan berupa anyaman terbuat dari daun kelapa, fungsinya sebagai tempat berteduh atau disebu kiha bleketepe.

Ada juga janur kuning, pisang suluhan, kelapa muda, hingga berbagai jenis daun dengan maknanya masing-masing. Penempatan semua pelengkap lokasi acara itu, menjadi berbagai simbol doa terbaik untuk pengantin. Agar acara penting tersebut berjalan lancar.

Baca Juga : 7 Tahapan Proses yang dilaksanakan Pernikahan Adat Jawa

Makna Dari Bahan Alam Saat Pasang Tarub

Seperti disebutkan sebelumnya, bahan alam yang dipakai sebagai bagian dari pasang tarub merupakan simbol tertentu dan memiliki filosofinya masing-masing. Lima diantaranya adalah:

Cengkir Gadhing

Merupakan bahan alam yang menjadi simbol untuk kandungan ibu bagi janin, memiliki filosofi tentang keturunan dari kedua mempelai nantinya

Pohon Pisang Raja

Bukan sembarangan pohon, tapi yang memiliki pisang dengan kondisi matang dan siap untuk dipetik. Filosofinya adalah, pasangan suami istri tersebut sudah sama-sama dewasa.

Letaknya pada sisi kiri dan kanan pintu, dilengkapi dengan beberapa bahan alam lainnya terutama buah seperti kelapa.

Sedangkan untuk tandan pisang pada pohonnya, menjadi simbol dari harapan agar kedua mempelai mendapatkan kemuliaan, dan kemakmuran

Godhong Apa-Apa

Sama dengan daun beringin sebagai lambang dari kebebasan dari berbagai rintangan hidup

Tebu Wulung

Tebu yang dipilih adalah tebu warna merah tua sebagai filosofi dari sumber yang manis dan menjadi perlambangan untuk kehidupan yang menyenangkan.

Ada juga filosofi selanjutnya yaitu, tentang wulung atau sepuh. Dimana diharapkan pasangan yang sudah memutuskan untuk berumah tangga akan memiliki pemikiran dan jiwa yang sepuh sehingga bijaksana dalam melakukan segala sesuatu.

Daun Randu

Punya makna tersendiri yaitu berkaitan dengan kecukupan sandang dan pangan dari kehidupan suami istri setelah menikah.

Janur

Ada juga janur kuning, dijadikan bagian hiasan pasang tarub yaiku pada pintu utama tempat para tamu akan masuk ke lokasi acara.

Asal kata janur adalah janma yang artinya manusia dan nur yang bermakna cahaya. Sehingga definisinya adalah sebagai simbol suci dan pencerahan yang dilakukan tanpa putus sepanjang hidup mempelai setelah menikah nanti.

Upacara Lain Setelah Pasang Tarub

Selain menggelar upacara pasang tarung yaitu salah satu upaya penghias lokasi acara, dengan berbagai bahan alam penuh makna. Ada juga berbagai upacara lain dilaksanakan menjelang acara puncak digelar.

Diantaranya adalah sungkeman dilakukan terpisah di rumah masing-masing, dimana mempelai akan sungkem dengan kedua orang tuanya. Lalu ada acara siraman, lanjut dengan meratus rambut disebut juga ngerik rambut.

Selanjutnya adalah midodareni, srah-srahan, lalu memberikan sanggan kepada pihak mempelai, lanjut dengan wijikan di hari pernikahan dan serangkaian upacara lainnya.

Sangat penting untuk tahu apa pasang tarub yaitu sebuah upacara jelang nikah. Bukan sekedar menggantung bahan alam, tapi juga menjadi bagian dari prosesi pernikahan Jawa masih dipedomani sampai saat ini.

Jadi, buat kamu yang akan menikah dengan orang Jawa harus siap-siap mengikuti semua upacara adatnya ya!

Tinggalkan komentar