Tradisi Balangan Gantal: Ini Dia Pengertian, Prosesi, dan Filosofi

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi pernikahan yang berbeda – beda. Setiap tradisi yang dilakukan memiliki filosofi atau makna tersendiri. Pada adat suku Jawa, biasanya kita mengenal berbagai rangkaian dalam prosesi pernikahan, salah satunya adalah Balangan Gantal.

Orang Jawa memang terkenal dengan tradisi yang memiliki filosofi atau makna yang dalam. Apalagi dalam pernikahan, berbagai ritual yang dilakukan dipercaya akan memberikan dampak baik pada kelangsungan rumah tangga pengantin tersebut.

Apa Itu Tradisi Balangan Gantal
bridestory.com

Apa Itu Tradisi Balangan Gantal ?

Biasanya disebut juga Balangan Suruh. Prosesi ini dilakukan setelah penyerahan ‘Sanggan’ yaitu barang hantaran dalam prosesi pinangan berupa beberapa sisir pisang hias yang disusun rapi dalam wadah anyaman, kemudian diberikan kepada mempelai wanita.

Setelah penyerahan Sanggan, tibalah prosesi Balangan Suruh tersebut. Dari asal katanya, Balangan artinya melempar atau saling melempar. Sedangkan Gantal sendiri bermakna gulungan sirih, Suruh juga merupakan bahasa Jawa dari sirih itu sendiri.

Gantal atau gulungan sirih ini biasanya diikat menggunakan Benang Lawe. Jumlah lintingan Gantal biasanya sebanyak 6 buah pada adat Jawa Yogyakarta. Sedangkan pada Jawa Solo biasanya sebanyak 7 buah lintingan Gantal.

Bagaimana Proses Tradisi Balangan Gantal Dilakukan ?

Pada adat Jawa Yogyakarta maupun Solo tidak memiliki banyak perbedaan dalam hal ini. Meskipun terdapat perbedaan pada jumlah lintingan Gantalnya, namun esensi atau makna yang terkandung dari tradisi atau ritual ini memiliki banyak persamaan.

Setelah prosesi Sanggan, kedua mempelai akan berhadapan dengan masing – masing memegang lintingan Gantal. Pada Jawa Yogyakarta, masing – masing mempelai berhak melempar 3 lintingan. Namun pada Jawa Solo, mempelai laki – laki 4 dan mempelai wanita 3.

Untuk bagian tubuh yang dilempar tidak ada ketentuan khususnya. Tetapi ada filosofi yang berbeda pada masing – masing bagian tubuh yang terkena lemparan lintingan Gantal tersebut.

Biasanya prosesinya seperti berikut ini. Kedua mempelai berjalan dari arah yang berlawanan dengan masing – masing diapit oleh dua orang kerabat. Kemudian kedua mempelai berhenti pada jarak sekitar dua meter dengan posisi berhadap – hadapan.

Dalam jarak tersebutlah kedua mempelai diperkenankan untuk melempar lintingan Gantal secara bergantian, dimulai dari mempelai pria terlebih dahulu. Setelah itu baru mempelai wanita dan seterusnya saling balas membalas lemparan hingga lintingannya habis.

Filosofi Atau Makna Dari Balangan Suruh Atau Gantal

Sebelum membahas filosofi dari prosesinya. Ada yang menarik dari makna lemparan Gantal itu sendiri. Jika Gantal yang dilempar oleh mempelai wanita mengenai lutut mempelai pria maka disebut Gantal “Gondhang Kasih” yaitu bermakna bahwa suami akan mengayomi.

Kemudian jika Gantal dilempar oleh mempelai pria pada dada mempelai wanita maka disebut Gantal “Gondhang Tutur”, maknanya pengantin pria tersebut telah mengambil kasih dan cinta dari mempelai wanita. Begitupun jika mempelai wanita melempar pada dada mempelai pria.

Pada dasarnya, filosofi keseluruhan dari prosesi Balangan Suruh ini sebagai cerminan dari sepasang mempelai yang saling melempar cinta dan kasih. Gantal juga sering dimaknai sebagai pertemuan antara mempelai pria dan wanita sebagai jodoh atau belahan hati.

Kesimpulan

Demikian adalah penjelasan mengenai Balangan Gantal atau Suruh yang menjadi salah satu tradisi dalam prosesi pernikahan adat Jawa. Meskipun pada Jawa Yogyakarta dan Solo terdapat perbedaan namun makna atau esensinya tidak berbeda jauh.

Pada dasarnya ritual atau tradisi yang dilakukan dalam proses pernikahan bertujuan baik untuk mengeratkan cinta kasih antara kedua mempelai dan merayakan perasaan bahagia setelah bersatunya dua mempelai dalam ikatan pernikahan.

Leave a Comment